Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Monday, July 04, 2016

Ummu Sulaim

Jadi ceritanya lagi bincang-bincang sama Abangku perihal nama bayi, kalau perempuan apa, kalau laki-laki apa. Hehehe padahal masih lamaa banget ya lahirannya. ini sekedar obrolan-obrolan ringan aja sebenernya.

Jadi Abang nyeletuk kalau perempuan Malika, kalau laki-laki bisa Abdurrahman, Abdulloh, Ahmad atau Muhammad, Abang juga sempet kepikiran. Terus karena kami emang bukan tipe orangtua yang bikin ribet nama anak yang pake filosofi-filosofi begitu, jadi yaa pinginnya satu aja. Gak tau kenapa itu Asiyah ada nama belakangnya Basimah, yang artinya Asiyah perempuan yang selalu tersenyum. Kalau buat saya sendiri Basimah is a pretty name. Artinya juga perempuan yang suka tersenyum, kalau untuk laki-laki nya Basim. Makanya mungkin kami tetap beri Basimah di belakang nama Asiyah daaan jadilah kami berdua sok-sok an memberi arti dari dua suku kata nama ini, karena dulu Asiyah istri Fir'aun ketika meninggal beliau tersenyum karena melihat penampakan syurga yang Allah tampakkan. Pinginnya mungkin suatu hari pas udah pulang ke indonesia for good, ganti nama aja insya Allah. Jadi Asiyah Deva Mandela. Deva Mandela nya yaa dari nama Bapaknya. wkwkwkwk terus Basimahnya jadi kunyahnya aja kalau memang dia jadi anak yang selalu atau mudah tersenyum.

Kenapa Malika?
Manis ya namanya? jadi... kami pernah dengar seorang Ustadz menyebutkan nama asli dari Ibunda Anas bin Malik. Ternyata pas di cari lagi, nama dari Ibunda Anas bin Malik ini juga dipertanyakan, apakah Sahlah, Rumailah, Unaifah ataukah Mulaikah, tapi yang jelas julukannya Rumaisha atau Ghumaisha.

Ia termasuk salah satu wanita penghuni jannah, sebagaimana yang tersirat dalam hadits berikut,
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُنِيْ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ امْرَأَةِ أَبِيْ طَلْحَةَ
Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku masuk jannah, tiba-tiba aku melihat di sana ada Rumaisha’, istri Abu Thalhah.” (HR. Al-Bukhari).
وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْفَةً فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوْا هَذِهِ الْغُمَيْصَاءُ بِنْتُ مِلْحَانِ أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
Dalam hadits Anas dikatakan, bahwa ketika masuk jannah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara terompah seseorang. “Suara siapa ini?” tanya beliau. Kata para malaikat, “Itu suara Ghumaisha’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim).

Rumaisha and Ghumaisha are both so pretty for me. Hihihihi sedangkan kunyahnya ibunda Anas bin Malik adalah Ummu Sulaim. Yang ini mungkin kita sudah sering dengar cerita-ceritanya. Beliau adalah istrinya Abu Thalhah dan ibu dari Anas bin Malik. Cerita tentang kecerdasan dan dekatnya Ummu Sulaim dengan Rosululloh bisa juga ditengok disini https://kisahmuslim.com/21-meneladani-ibunda-anas-bin-malik.html atau disini https://muslim.or.id/18966-kisah-menakjubkan-ummu-sulaim-saat-ditinggal-mati-anaknya.html

But still.. Malika juga enak di dengar dan nama yang cantiiiiik hehehehe *tetep. Nanti coba kami dengar lagi kajian Ustadz tersebut. 

Kalau nama-nama yang laki-laki.... memang sudah sunnah ya, bagus kalau beri nama anak dengan Abdulloh dan Abdurrahman

Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

The other random conversation is.... kami berdua pingin ganti nama yang islami hahahahaha ya kaliii??

Monday, May 30, 2016

Masjid Al-Nur

Jadi ceritanya hari Jum'at lalu saya ikut suami sholat jum'at di Masjid Al-Nur. Kalau naik S-bahn turun di Köllnische Heide (S-bahn ring). Jalannya lumayan jauh hahaha jadi susah juga didepkripsikan di sini.

Kalau saya pribadi sih kayaknya masih bisa banget dihitung jari datang ke masjd ini. Karena lumayan jalannya plus kalau mau datang biasanya ngepasin waktu sama suami. Suami lumayan sukaaa ke masjid ini. Soalnya lokasi nya lumayan terjangkau dari rumah kami yang lumayan di timur Berlin hehehe

Plus... masjidnya.. nyunnah. Hehehehe ini nilai plus pluss insya Allah. Gak tau kenapa kalau ke masjid-masjid lain di Berlin ini, yaa biasanya sih yang notabene nya masjid arab ya.. yang misal pas jum'atan Khotib nya pake bahasa arab, ngerasanya walaupun gak kenal siapa-siapa tetep gak ngerasa kayak sendirian. Hehe.. maksudnya, pun berpakaian yang nyunnah atau bertindak tanduk yang nyunnah, gak ada orang yang ngeliatiiin hihihihi dan orangnya ramah-ramah masyaa Allah. Saling salam, kalau yang bisa bahasa jerman tanya kabar. Karena kalau di masjid Al-Nur ini banyak juga ibu-ibu nya yang datang, jadi mereka pakai bahas a Arab kalau yang saya denger sih. Ada juga yang orang-orang Jerman atau yaa biasa yaaa, anak-anak muda yang lahir dan besar di jerman ini.

Jadi ceritanya pas Idul Fitri tahun lalu saya gak ke KBRI, lumayan "yaaaah" gitu. Hehehe biasa kan biasanya perempuan kalau gak ketemuan temen-temen rasanya begitu ya, apalagi di masjid Al-nur ini saya gak kenal siapa-siapaaa plus itu pertama kalinya Asiyah ikutan ke masjid buat sholat berjama'ah. Duh kalau nangis gimana, duh kalau dia rewel gimana.. kekhawatiran yang begitu-begitu lumayan adaa waktu itu. Tapi kan ikut suami namanya juga ya... mudah-mudahan ikhlas karena Allah ta'ala aaamiin.

Pas nyampe sana... rameeeeee masya Allah. Gak semuanya juga ibu-ibunya pake gorden, tapi ada beberapa yang pakai cadar dan alhamdulillaaah saya duduk dekat akhwat-akhwat baiiiik hati hehehe. Mereka heboooh sama tingkah Asiyah "aaah wie süüüüüssss masya Allaah", "so cuuute masya Allah", hehehehe jadi intinya saya seneng aja disana. Insya Allah kalau sama akhwati fillah ku yang orang indonesia bisa ziarah kerumah-rumah mereka. Mudah-mudahan Allah kasih jalan.

Singkatnya saya ketemu lagi kemarin jum'at sama salah satu akhwat jerman soooo pretty dibalut abaya dan khimar hitam dan beliau kalau keluar pake cadar hehe yang tempo hari ketemu juga pas Ied. Maluuuuu hati sebenernya yaaa mereka udah bisa sekaffah ituuuuu. Iteeeeem semuanya iteeeeem *histeris. Dia nyapaa "assalaaamu'alaykum masih kenal saya ga? waktu itu kita ketemu pas sholat ied", saya bahagia bangeeet dia masih inget hahahaha. jadi pas duduk mau dengerin khotib khutbah saya udah liat akhwat baik hati ini pas dia masuk. Sambil inget-inget namanya juga, alhamdulillah inget. Terus saya jawab "ingeet dong, Medina kan?" trus kami gantian nomer HP. Beliau nanyain juga kabar nya Asiyah inget jugaa beliau sama bocilku. hihihih

Alhamdulillaahilladzi bini'matihii taathimusshoolihaat. ada-ada yaaa cerita persaudaraan sesama muslim. Gak pandang dari mana asalnya... masya Allah masya Allah.

oh iyaaaaaaaaaaa, di al-Nur superrrr canggih. Walaupun ceramahnya dalam bahasa Arab, insya Allah buat kita yang gak ngerti, bisa minta headset buat sambil dengerin terjemahannya dalam bahasa jerman. Saya sempet bingung awalnya "kok mereka pake headseeeet?" ditengah-tengah baru nyadar, oiya buat terjemahan hahahaha maluuu deh. Khotibnya kemarin banyak ngutip hadits atau ayat qur'an jadi walaupun gak ambil headset ada kata-kata yang mayan nempel dikuping. Tapi lebih baik ambil headseet buat kali selanjutnya insya Allah. Dan alhamdulillah ruangan laki-laki dan perempuan terpisah seeeterpisah-pisahnya. Jadi para akhwat bisa nyamaaan dan amaaaan (hati dan pandangan) insyaa Allaah

Wednesday, April 20, 2016

Salafi = Islam Keras?

Bismillaahirrohmaanirrohiiim

Alhamdulillaahilladzi bini'matihi taathimushshoolihaat

Dari judulnya udah lumayan bikin melotot belum yah? Hehehe
Sebenernya ketika saya mau menulis tentang yang tertera di atas, saya merasa... ragu-ragu, tulis gak ya... tulis gak ya... Hehehe Karena hal ini lumayan hal yang sensitif yah, kalo soal agama tuh bener-bener masalah pribadiii banget ya sebenernya. Mudah-mudahan tulisan saya gak bikin huru hara atau bikin sebel yang baca ya..........

Jadi... sebelum saya mengenal dakwah salaf atau kadang-kadang juga disebut ngaji sunnah, saya sempat ikut juga untuk belajar islam but then, when i found or when i heard kajian in youtube from one of an Ustadz yang mengisi kajian sunnah, i felt like.... a lot of things are missing. Saya merasa... kalau islam itu bukan melulu dakwah atau ngajakin orang-orang, tapi sebelum ketahapan itu, kita sebagai orang muslim harus menimba ilmu. Iya, ilmu syar'i. Dan dakwah setiap orang itu berbeda-beda... bahkan dengan berpakaian sesuai syariat pun itu salah satu bentuk dakwah kita insya Allooh. Dengan bertindak sesuai apa yang Rosululloh sallalloohu 'alayhi wasallam pun termasuk dakwah. Untuk yang laki-laki membiarkan jenggotnya tumbuh, celana nya gak isbal, menebar salam, untuk para ummahaatnya urus anak, suami, atau menyampaikan nasihat sesuai dengan ilmu yang kita punya, kalau ilmu kita belum sampai situ ya.. kita gak boleh gengsi bilang "saya gak tau" atau "saya gak paham". Dakwah itu masya Allah adalah suatu tindakan yang mulia tapi ya itu, sebelum kita berdakwah dengan memberikan kajian kita harus benar-benar menuntut ilmu. Dakwah-dakwah dengan mengisi kajian biarlah kita serahkan dengan para alim ulama yang sudah belajar islam atau belajar cabang islam seperti fiqih, aqidah, muamalah dan lain-lain.

Abu Bakar r.a dulu ketika beliau mengetahui Muhammad adalah Rosul Allah, beliau juga langsung berdakwah, mengajak para sahabat-sahabatnya untuk memeluk agama islam, tapi ya itu, sebatas pengetahuannya bahwa "tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rosul Allah".

Nah, sekarang-sekarang ini sedang heboh tentang "salafi". Biasanya kalau dengar kata salafi, banyak orang yang menganggap kalau orang-orang yang menisbatkan diri mereka dengan salafi ini adalah islam yang keras. Karena banyaknya berita-berita miring tentang salafi di media. adapun definisi salafi itu adalah orang-orang terdahulu, yang menurut kesepakatan ulama itu artinya sahabat-sahabat Rosululloh, tabi'in, tabi't tabi'in dan para Imam yang dulu yang berpegang teguh pada Alqur'an dan Sunnah Rosulullooh sallalloohu 'alayhi wasallam (pengertian selanjutnya saya copy paste dibawah yaaa). Pun ada sekolompok orang yang berbuat melenceng atau "keras" misal membunuh, mendemo pemerintah, atau contoh-contoh lain yang sebenernya tidak di ajarkan baginda kita Rosulullooh sollalloohu 'alayhi wasallam, menamakan diri mereka salafi, maka marilah kita berlepas diri dari mereka teman-temanku. Karena tindakan mereka sebenarnya jauuuuh dari apa yang dicontohkan oleh para salaf.

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan:
اِصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُواْ، وَكُفَّ عَمَّا كُفُّوْا عَنْهُ، وَاسْلُكْ سَبِيْلَ سَلَفِكَ الصَّالِحَ، فَإِنَّهُ يَسَعُكَ مَا وَسِعَهُمْ.
“Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka".

Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, walaupun kita bersendirian. Karena jama'ah itu bukan berarti bersama-sama dalam pengertian sebenarnya, tapi jama'ah itu adalah bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah belah dalam urusan agama  berkumpul di bawah kepemimpinan para Imam (yang berpegang kepada) al-haqq (kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatan Salaful Ummah. Jadi, walaupun kita terasing tapi tetap menegakkan atsar (sunnah) insya Allah kita berada dalam jama'ah.

Semua firqah-firqah (golongan) itu memiliki dalil masing-masing. Disebut firqah karena mereka memiliki dalil- Tapi apakah dalil mereka sesuai Alqur'an dan sunnah? Dalil yang sesuai alqur'an dan sunnah itu lah yang harus selalu kita cari. Maka kita harus tetap berhati-hati dengan firqah-firqah sesat karena mereka pasti menyertakan dalil.

Adapun perbedaan pendapat diantara para ulama, itu adalah masalah khilafiyah. Masalah khilaf antara para ulama yang kita bisa pilih pendapat mana yang paling kuat atau rojih.

Tapi yang harus kita ingat dan selalu berusaha untuk lakukan sebagai penuntut ilmu. Janganlah kita bersikap keras terhadap teman-teman kita yang belum mengenal dakwah ini. Misal yang masih isbal, yang gak ada jenggotnya (kali aja emang karena gak bisa tumbuh?), yang masih pakai Kopftuchchen, yang masih ikutan firqah lain.... tebarkanlah hikmah dan kasih sayang seperti Rosululloh dulu. Alloh dan RosulNya aja dihina dan dicaci maki, apalah kita yang gak lebih dari debu ini ya kan.......

Soal yang Kopftuchchen itu hehehehe dapet istilah itu dari suami setelah doi ikut kajian di masjid Sahaba dekat U-bhf Amrumerstr. Dia cerita beberapa isi kajiannya sampai nyebut "kopftuchchen" hehe saya spontan nyengir. I was the one who wore it thou....... hehehe mudah mudahan kita selalu diberi hidayah untuk selaluuu berubah sesuai yang Allah dan RosulNya suruh aaamiiin alloohumma aamiin..

mudah-mudahan gak alergi lagi yaa dengan istilah salafi. Coba deh dengerin youtubenya rodjatv, yufidtv dan kajian-kajian sunnah lainnya. Ustadz nya boleh mengerikan mukanya, tapi masya Allah ajarannya lembut kok insya Allah. Galak suaranya kan bukan berarti maksudnya galak kaaaaan?

hidayah hanya milik Allah. Mudah-mudahan kita selalu dalam hidayahNya untuk terus menimba ilmu syar'i, ilmu sesuai Alqur'an dan Sunnah.. aaamiiin

saya copy paste dari sini https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html

Definisi Salaf (السَّلَفُ)
Menurut bahasa (etimologi), Salaf ( اَلسَّلَفُ ) artinya yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama.[1] Salaf berarti para pendahulu. Jika dikatakan (سَلَفُ الرَّجُلِ) salaf seseorang, maksudnya kedua orang tua yang telah mendahuluinya.[2]

Menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat (Islam) ini, yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”[3]
Menurut al-Qalsyani: “Salafush Shalih adalah generasi pertama dari ummat ini yang pemahaman ilmunya sangat dalam, yang mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjaga Sunnahnya. Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan menegak-kan agama-Nya…”[4]
Syaikh Mahmud Ahmad Khafaji berkata di dalam kitabnya, al-‘Aqiidatul Islamiyyah bainas Salafiyyah wal Mu’tazilah: “Penetapan istilah Salaf tidak cukup dengan hanya dibatasi waktu saja, bahkan harus sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih (tentang ‘aqidah, manhaj, akhlaq dan suluk-pent.). Barangsiapa yang pendapatnya sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah mengenai ‘aqidah, hukum dan suluknya menurut pemahaman Salaf, maka ia disebut Salafi meskipun tempatnya jauh dan berbeda masanya. Sebaliknya, barangsiapa pendapatnya menyalahi Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka ia bukan seorang Salafi meskipun ia hidup pada zaman Sahabat, Ta-bi’in dan Tabi’ut Tabi’in.[5]
Penisbatan kata Salaf atau as-Salafiyyuun bukanlah termasuk perkara bid’ah, akan tetapi penisbatan ini adalah penisbatan yang syar’i karena menisbatkan diri kepada generasi pertama dari ummat ini, yaitu para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikatakan juga as-Salafiyyuun karena mereka mengikuti manhaj Salafush Shalih dari Sahabat dan Tabi’ut Tabi’in. Kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka -di sepanjang masa-, mereka ini disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang difahami oleh sebagian orang, tetapi merupakan manhaj (sistem hidup dalam ber-‘aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dan yang lainnya) yang wajib diikuti oleh setiap Muslim. Jadi, pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.[6]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H)[7] berkata: “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan manhaj Salaf dan menisbatkan dirinya kepada Salaf, bahkan wajib menerima yang demikian itu karena manhaj Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” [8]

 

 referensi :
https://almanhaj.or.id/3428-definisi-salaf-definisi-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html
https://almanhaj.or.id/1276-kewajiban-ittiba-mengikuti-jejak-salafush-shalih-dan-menetapkan-manhajnya.html
https://www.youtube.com/watch?v=7dghYmiz34I

Monday, November 16, 2015

Paris Attack

Sebenarnya ini adalah yang kesekian kalinya ada isu terror dari terroris. Saya emang ga ikutin berita harian di sosial media.. tapi karena masih on di instagram, di home heboh banget soal Paris Attack beberapa hari lalu. Banyak yang tertembak.. mati. Dan sebagai tersangka atas aksi tersebut atau yang memang mereka sendiri mengakuinya, ISIS. Satu gerakan yang membawa Islam di dalam aksi mereka.

I just want to say.. whatever those kind of gerakan is or are.. agama kami tidak mengajarkan menakut-nakuti seseorang atau sekelompok orang bahkan negara. Jangankan nakut-nakutin dengan teror, demontrasi melawan pemerintah saja Rosululloh tidak pernah ajarkan. Kami di suruh menaati pemerintah selama itu masih dalam perkara ma'ruf (kebaikan), perkara yang munkar (tidak baik) contohnya : tinggalkan solat.

Karena masih tinggal di negara yang mayoritasnya non muslim, rasanya malu kalau ada aksi-aksi kayak begini. Berita di media juga gak selamanya benar, gak tau kebenaran ISIS itu di kontrol oleh sekelompok orang kah? jadi mengkambing hitamkan Islam? Saya juga awam jadi cuma pengen bilang aja gitu, yang dilakukan terorist adalah bukan akhlaq (perbuatan) yang seharusnya dicerminkan oleh seorang muslim (orang islam). Bila itu mengatas namakan islam... jangan skeptis atau beranggapan terhadap islam itu sendiri, tapi silahkan menilai perilaku orang yang melakukan.

Islam Melarang Tindakan Teror

Bukti dalil yang menyatakan bahwa Islam tidak setuju dengan tindakan teror (al irhab) adalah firman Allah Ta’ala,
مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32).
Meneror atau menakut-nakuti orang lain itu termasuk berbuat dosa. Pernah di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama beliau, lalu ada seseorang di antara mereka yang tertidur dan sebagian mereka menuju tali yang dimiliki orang tersebut dan mengambilnya. Lalu orang yang punya tali tersebut khawatir (takut). Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Daud no. 5004 dan Ahmad 5: 362. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Berarti Islam tidak setuju akan tindak teror atau menakut-nakuti orang lain.

Islam Melarang Tindakan Radikal

Islam juga melarang tindakan radikal atau kekerasan. Buktinya adalah terhadap binatang saja kita dilarang untuk menyiksa.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِى هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ ، لاَ هِىَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا ، وَلاَ هِىَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ
Ada seorang perempuan disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati karena tindakannya tersebut ia masuk neraka. Wanita itu tidak memberi kucing tersebut makan, tidak pula minum ketika ia mengurungnya. Juga kucing tersebut tidak dibolehkan untuk memakan serangga-serangga di tanah” (HR. Bukhari no. 3482 dan Muslim no. 2242). Kenapa wanita ini disiksa di neraka? Karena tindakan ia menyiksa binatang. Coba bayangkan bagaimana jika yang disiksa adalah manusia?
Sa’id bin Jubair menceritakan,
مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا
“Ibnu ‘Umar pernah melewati beberapa pemuda Quraisy yang menancapkan seekor burung dan memanahinya. Setiap anak panah yang tidak mengenai sasaran menjadi milik si pemilik burung.
Ketika melihat Ibnu ‘Umar, mereka pun bubar. Ibnu ‘Umar lalu berkata, “Siapa yang melakukan ini? Ketahuilah, Allah melaknat orang yang melakukan seperti ini. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan makhluk bernyawa sebagai sasaran tembak.” (HR. Muslim no. 1958). Ini juga yang disiksa adalah binatang, bagaimanakah dengan manusia?
Ada hadits dikeluarkan pula oleh Muslim bin Al Hajjaj,
مَرَّ هِشَامُ بْنُ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ عَلَى أُنَاسٍ مِنَ الأَنْبَاطِ بِالشَّامِ قَدْ أُقِيمُوا فِى الشَّمْسِ فَقَالَ مَا شَأْنُهُمْ قَالُوا حُبِسُوا فِى الْجِزْيَةِ. فَقَالَ هِشَامٌ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِى الدُّنْيَا »
“Hisyam bin Hakim bin Hizam pernah melewati beberapa orang petani di Syam. Mereka berdiri di panas terik matahari.
Kemudian Hisyam bertanya, “Apa yang terjadi pada mereka?”
Orang-orang menjawab, “Mereka disiksa karena jizyah (upeti).”
Hisyam berkata, “Aku bersaksi, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia.” (HR. Muslim no. 2613).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Hisyam menemui gubernur di sana dan berbicara kepadanya. Ia pun memerintahkan agar mereka dibebaskan.
Dalil di atas menunjukkan haramnya menyiksa manusia, apalagi sampai membunuh atau membakar. Intinya, Islam tidak mengajarkan radikalisme.

Islam Mengajarkan Deradikalisme dan Kasih Sayang

Abu Hurairah menceritakan,
قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا . فَقَالَ الأَقْرَعُ إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا . فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَالَ « مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Al Hasan bin ‘Ali (cucu beliau). Ketika itu ada Al Aqra’ bin Habis At Tamimi sedang duduk. Al Aqra’ berkata bahwa ia memiliki sepuluh anak, namun ia tidak pernah mencium salah seorang di antara mereka sedikit pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan padanya, “Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak disayangi.” (HR. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318).
Islam mengajarkan pula kelembutan dan itu tanda kasih sayang. Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

saya kutip dari sini

laa hawla wa laa quwwata illa billaah....



Monday, February 23, 2015

Diskusi Hati

Bismillah..

Kali ini postingannya bukan tentang makanan Asiyah. Lebih ke... curhatan Ibunya Asiyah tentang Asiyah hehehe

Asiyah sekarang sudah hampir tujuh bulan. Dan diri ini masih excited se excited excited nya motoin Asiyah almost everyday. Gak jarang berasa remuk karena Asiyah loves to be carried all day long or... she loves to play but someone must accompany her, it means I have to stay besides her almost all the time. Namun rasa capek itu terbayarkan ketika melihat Asiyah semakin pintar setiap harinya. Alhamdulillah

Rasanya ga kepingin banget bawa Asiyah ke baby day care. Tapi situasi mengharuskan itu..... hiks moga Allah maafkan dan mudahkan jalan supaya bisa mengasuh Asiyah full time setelah urusan kuliah ibu nya selesai di garis finish. Selfish ya? Padahal ada masa-masa Asiyah butuh sentuhan luar bukan melulu sama Umminya. Tapi...... beneran deh itu kayak diskusi di dalam hati. Asiyah needs to know the world, meets some friends and some other people not only her dad and mom. On the other hand... i keep asking "segitu penting nya kah Asiyah harus mau sama orang, supaya dia ga rewel kalo digendong orang lain?"... come on she's still a baby and it is very normal if she feels save with her Ummi or Aba right?? Hahah ok ok.. ada plus minusnya ya.. bagus juga kalau Asiyah mauan sama orang supaya jadi ramah, membentuk rasa percaya dirinya. Ya kan?

Ah jaman sekarang sudah terlalu banyak info dan jaman semakin maju, jadilah "keduniawian" lebih mendominasi dari pada "keakhiratan". Kenapa saya bilang gitu? One day husband told me that it's really okay if our children don't go to school in the future. Why? Karena kerasnya dunia. We are too scared of the influences which can give our children bad impacts. Dari lingkungan, entah lingkungan sekolah itu sendiri, pertemanan, atau guru yang kurang memperhatikan norma-norma agama. "Biarin aja kalau anak kita gak mau sekolah, kita ajarin dari rumah. Nanti kalau kira-kira mereka udah siap baru kita masukin sekolah". Siap dalam artian, tau mana yang halal dan haram untuk dirinya sebagai muslim dan muslimah. Berat ya? Beraaaat banget emang ternyata yaa tanggung jawab orang tua. Huaaaaaaaaaa

Dan masih seperti mimpi buat saya dan mungkin buat suami karena Allah titipkan Asiyah kepada kami. Semua sehat dan sakit, bahagia dan sedih, suka dan duka hanya Allah yang tau bagaimana skenario hidup ini berlangsung. Sebaik-baik orang tua menjaga anaknya, tidak lebih dari penjagaan Allah kepada semua hambaNya. Allah sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung. Moga Allah lindungi kita semua selalu.....

Jadilah muslimah yang tetap tegakkan kalimat Allah dan hidupkan sunnah Rasulullah sallallaahu 'alayhi wasallam anakku..

Saturday, May 24, 2014

UMMIUMMI.COM

Saya baru nemu website ciamik syarat ilmu insyaa Allaah, akibat gak sengaja nge-klik karena nama websitenya yang menurut saya..kece. Nama websitenya ummiummi.com ...

Isi websitenya menarik, banyak ilmu-ilmu bermanfaat buat para ibu dan calon ibu. Insyaa Allaah setiap muslimah akan jadi calon ibu, ya? Jadi yang belum menikahpun gak ada salahnya kalau mau mampir ke website ini. Jadi ketika menikah udah ada bayangan seperti apa. Hehe

Pas baru nemu website ini saya gak langsung klik "Tentang ummiummi.com" tapi langsung meng-klak-klik beberapa artikel yang dari judul emang bikin kepingin buka pagenya. Hehehe Naah pas saya baca "tentang ummiummi.com" ada satu paragraf yang bikin saya nyengir, bahagia. Izin di copy paste yaaa admin ummiummi.com

"Berkarier sebagai ibu rumah tangga merupakan sebuah pilihan yang paling utama untuk seorang muslimah. Bukan hanya soal dapur, sapu, pel, dan sabun cuci. Bukan hanya soal perut kenyang dan anak senyap. Bukan soal menyelesaikan tumpukan PR anak dari sekolah. Namun, banyak pernik kecil dalam keseharian kita yang sebenarnya bisa berubah istimewa jika dilakoni dengan cara yang berbeda. Berbeda karena kita seorang muslimah. Berbeda pada niat yang ada dalam hati kita. Berbeda pada tujuan akhir kita. Berbeda dari cara kita mendidik generasi selanjutnya dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam".

Memang setelah menikah saya akui kegiatan saya terbatas. Kadang setelah minta izin, saya menimbang nimbang perlukah saya pergi keluar? Atau.. kira-kira kalau saya keluar suami saya ridho gak ya? Walaupun kadang setelah saya bertanya boleh atau tidak nya saya pergi, saya mendapatkan jawaban dibolehkan, tapi tetap saja.. Pertimbangan itu tetap ada. Pun itu berkaitan dengan pergi dengan teman untuk sekedar silaturrahim atau ke masjid dan tidak terkecuali untuk kegiatan-kegiatan wajib saya semisal kuliah atau kegiatan sore hari yang masih saya lakukan, saya tetap mengkalkulasi kira-kira sampai jam berapa saya di rumah. Kepinginnya saya sudah di rumah ketika nanti setibanya suami di rumah.

Terkesan kayak ngumpet ya? Atau gak berkegiatan? Insya Allah saya masih pergi kesana kemari untuk sekedar bersosialisasi, tapi ya itu ada pertimbangan perlu tidaknya. Seperlu itu kah? atau masih bisa dicari hari lain? Karena memang tanggung jawab saya sudah berbeda. Bukan maksudnya jadi kurang asik kayak dulu masih lajang, tapi saya juga ingin menghargai suami yang sebenarnya di luar banting tulang cari nafkah plus setengah mati menjaga saya buat menepati janjinya ketika ijab qabul itu terucap.

Islam pun ajarkan koridor-koridor seorang muslimah. Kewajiban utama seorang istri adalah suaminya, hal ini juga terkait dengan ketaatan kita terhadap Allah dan Rasul karena taat kepada suami juga perintah Allah.

Even itu harus ke kajian sekalipun dan suami saya bilang gak boleh pergi... insya Allah saya gak pergi, karena saya yakin suami saya bilang gak boleh pasti ada alasannya. Kecuali gak dibolehin sholat yaaa itu mah udah ga taat sama Allah.

Saya ada dengar kajian sunnah khusus muslimah, Ustadznya bilang kurang lebih begini,
"Ibu masak buat suami buat anak, shodaqoh. Ibu merapikan kamar supaya betah dirumah, shodaqoh. Amal sholeh itu bukan cuma sholat atau dzikir". Karena amal sholeh yang paling agung adalah melayani suami. Kebayang gak kita punya semisal yang bantu-bantu di rumah empat orang, misal dengan niatan supaya bisa pergi ke kajian sana sini. Padahal dengan demikian kita kehilangan pahala memasak, pahala beberes rumah, pahala jagain anak, semuanya di gondol sama yang bantu-bantu rumah. Hehehehe.. kira-kira itu penjelasan lanjutan dari Ustadznya. (buat dengar kajian sunnah tersebut bisa di klik di SINI.

Saya bisa bilang begini mungkin karena status saya masih mahasiswa ya.. Yang semester ini cuma dapet jadwal kuliah satu hari aja seminggu, jadi istilahnya udah lumayan jadi Ibu Rumah Tangga. Saya gak tau apa yang terjadi nanti ketika saya dapat kerja, atau kuliah saya full lagi. Akankah saya bisa memanage waktu dan mempertahankan gelar jadi Ibu Rumah Tangga. Wong yang sekarang ini aja masih adaptasi banget kok... Masih belum mahir nyesuain ritme waktu. Eh tau-tau bahan makanan abis padahal saya mesti kesana kemari atau eeeeh saya telat masak padahal suami mesti di bekali sesuatu buat kerjanya.

Nah kan.. hehehehe

Intinya sih belajar terus ya.. Belajar jadi istri yang disayang Allah dan suami. Meski aral melintang, meski orang-orang bilang kita kuper, insya Allah kalau buat taat sama suami, silaturrahiim sama teman-teman handai taulan juga insya Allaah ada waktunya. Dan suami pasti tau, kalau kegiatannya baik, gak mungkin serta merta gak dikasih izin kan?

Thursday, May 15, 2014

Cuma dari Youtube :(

Setuju gak kalau masing-masing dari kita tidak berhak untuk menilai tindak tanduk seseorang, terlebih lagi kadar keimanan orang tersebut kepada Allah dari kacamata kita sendiri?

Setuju juga gak kalau masing-masing dari kita kadang merasa risih kalau urusan pribadinya terganggu? Tidak juga karena alasan ukhuwah jadilah semua-semuanya mesti ditanya dan semua-semuanya mesti dikasih tau. Benar tidak?

Memantau siapa-siapa yang didakwahi dari tindak tanduk mereka tidak akan memberikan hasil yang akurat. Masing-masing kita gak akan pernah tau apa yang tersembunyi di hati masing-masing orang, walaupun itu isi hati Ibu Bapak, atau suami istri kita sendiri. Kecuali si Fulanah menceritakan apa yang ingin dia ceritakan.

Dakwahmu bisa dimulai dari cara dirimu berpakaian, caramu berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kamu melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Dakwah bukan hanya duduk dimajelis menjadi si yang membawakan materi majelis, yang terkadang kita tidak paham betul apa yang kita kemukakan karena dangkalnya ilmu yang kita punya.

Doktor Nashir al 'aql berkata : "Diantara kesalahan yang harus diperingatkan dalam masalah fiqih adalah memisahkan dakwah dari ilmu, dan ini lebih banyak ditemukan pada pemuda, mereka berkata, "berdakwah berbeda dengan menuntut ilmu". Oleh karena itu, kita dapati para pemuda sangat memperhatikan amaliyah dakwah, bahkan memberikan semua kesungguhannya, akan tetapi ia sangat sedikit dalam menghasilkan ilmu syari'at, padahal kebalikannya itulah yang benar, hendaklah ia menuntut ilmu dan bertafaqquh dalam agama, menghasilkan ilmu-ilmu syaria'at kemudian baru ia berdakwah..." (Al Fiqhu fiddiin hal 58)

Kepada siapa kita menuntut ilmu? Kepada orang yang ahli..
Ulama yang hakiki adalah ulama yang dalam pemahaman mereka terhadap alquran dan sunnah disertai amaliyah dalam kehidupan sehari-harinya.
Imam Asy Syafi'i berkata : "Tidak halal bagi seorangpun berfatwa dalam agama Allah kecuali orang yang berilmu tentang kitabullah, nasikh mansukhnya, muhkam dan mutasyabihnya, ta'wil dan tanzilnya, makki dan madaninya dan apa yang diinginkan darinya. Kemudian ia mempunyai ilmu yang dalam mengenai hadits Rosululloh sallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana ia mengenal Al Qur'an. Mempunyai ilmu yang dalam mengenai bahasa arab, sya'ir-sya'ir arab dan apa yang dibutuhkan untuk memahami Alqur'an, dan ia mempunyai sikap inshaf (adil) dan sedikit berbicara. Mempunyai keahlian dalam menyikapi perselisihan para ulama. Barangsiapa yang memiliki sifat-sifat ini, silahkan ia berbicara tentang ilmu dan berfatwa dalam masalah halal dan haram, dan barang siapa tidak memilikinya maka ia hanya boleh berbicara tentang ilmu namun tidak boleh berfatwa". (shahih faqih wal mutafaqqih hal 390)

Berguru hanya kepada buku (otodidak) bisa berakibat kehilangan suri tauladan bagi diri kita. Kenapa? Karena bila kita datang kesuatu majelis, kita akan mendapatkan ilmu beserta tauladan dari guru yang kita jumpai.

Saya iri sama yang di Indonesia.. Begitu banyak masjid-masjid yang terbuka lebaaaaaaaaaaaaaaaaaar dengan siaaaaapapun Ustadznya dengan membahas Al-Quran dan Sunnah, tanpa harus ngejugde orang lain, tanpa harus sembunyi-sembunyi ngaji sama siapa, tanpa harus dikejar proyek dakwah (dengan ilmu yang seadanya/kosong). Qodarulloh, diri ini cuma bisa denger kajian dari Youtube. :(

Seems like this post will make some or a lot of contradiction... Buat yang gak sependapat saya minta maaf. Intinya semoga kita selalu kembali pada Al-Quran dan Sunnah bukan semata karena kelompok, golongan, kekuasaan, politik atau apapun itu.

Salam Damai :)

Tuesday, February 04, 2014

Bekal untuk yang berSafar

Di halaman facebook saya akhir-akhir ini lumayan bikin hati jedar jeder lantaran sesuatu hal yang di post oleh teman-teman seper-facebook-an. Hehe

Semenjak satu atap dengan Mr. Mandela, kerap kali dia bilang argumen dia tentang yang tidak suka dengan share anything di facebook. Why? Karena dia bilang, share-share begitu cuma bikin halnya makin ngambang. Lantaran suami yang bilang begitu saya iya aja, walaupun kepingiiiiiiiiiiin sekali hati share misal tentang "bagaimana cara wudhu", atau "doa untuk orang sakit" atau "doa untuk orang yang bepergian jauh" yang menurut situs sesuai sunnah Rasul insyaa Allah.

Pendapatnya makin dikuatkan ketika salah satu Ustadz bilang, "menuntut ilmu itu harus sama guru. Baca buku saja kurang, sebaiknya datang ke majelis". Saya mikir.. iya juga. Mungkin kalo di facebook orangnya majemuk. Ada yang pikirannya politiiiiiiiiiik mulu, ada yang pikirannya liberal, ada yang masih belum ngeh sama sunnah. Jadi kalo ke share bisa jadi bukan orang-orang itu ber "OH" atau "AHA" ria, tapi bisa jadi ada yang makin "kok Islam aneh gini sih?". Walaupuuuun kemungkinannya ada dua di-like atau dislike. Hehehehe.. Masalah jenggot dan celana di atas mata kaki aja bisa jadi beberapa kubu saling bersisian.. Jadilah saya cuma bisa berspeak up ria disini. :) but I do not think that sharing things about sunnah in facebook itu a bad thing kok. Saya juga masih terlalu gemeeeeeeees kadang-kadang pingin banget share walhasil cuma like-like link-link dari facebook teman.

Ini nih yang lagi kepingin aku bagi...

Bekal Safar: Kutitipkan Mereka Kepada-Mu, Ya Allah…


Berkenaan tentang mendoakan teman kita yang mau safar atau perjalanan jauh. Biasanya suka bilang "hati-hati yaaa. titip doa".. Kalau dari yang saya baca.. Dari beberapa riwayat dinukil bahwa Rasululloh SAW menganjurkan..


Saturday, January 04, 2014

just.. thoughts

Kalau Islam didakwahkan dengan cara yang tidak disukai Allah dan RasulNya dengan alasan supaya orang-orang bisa mentolerir atau agar islam bisa masuk ke pikiran orang-orang yang didakwahi, apa jadinya islam kelak? hmn.. Pantesan banyak golongan islam sekarang, wong mendefinisikan qur'an dan haditsnya seenak jidat, hukum-hukum agama diambil yang gampangnya aja. Mau jadi apa?? *sigh..

Thursday, December 19, 2013

Mestinya ngapain dong?

Just correct me if I'm wrong...

Ada pesan sayang dari Allah ta'ala yang turun langsung ke Rasululloh SAW..

"Sesungguhnnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa yang melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dia sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatan kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).
(QS. 6: 104)

"Demikianlah Kami mengulang ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu ( dari Ahli kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al-Quran itu kepada orang-orang yang mengetahui". (QS. 6: 105)

"Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik" (QS. 6: 106)

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak memperkutukanNya. Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka". (QS. 6: 107)

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian pada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan" (QS. 6: 108)

" Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu'jizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah : "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman". (QS.6 : 109)

"Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan yang sangat". (QS.6 : 110)

"Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui". (QS.6 : 110)

Mungkin di zaman Rasulullah SAW dulu gak sekompleks di zaman sekarang yang sudah bermain dengan teknologi super canggih dan koneksi internet yang dimana-mana. Pun kita hidup di zaman Rasulullah saya masih sangsi apakah kita bisa ikut Rasul, ikut syahadat, ikut agama Islam, ikut ajarannya Allah sampai ikut perang dimana-mana. Maha Suci Allah, yang telah pilihkan orang-orang terdahulu, karena walaupun dulu teknologi belum membuat hidup manusia sebegitu kompleksnya, saya yakin ujian Allah juga gak kalah berat karena mereka harus korbankan pikiran dan jiwanya demi kalimat Laa ilaa ha illallah tegak berdiri.

Zaman Rasul belum ada social media. Belum ada kalimat berbisa dari manusia-manusia yang dituangkan oleh mereka lewat tulisan-tulisan kecil yang penjelasannya tidak cukup panjang. Lewat tulisan orang bisa menulis apa yang mereka pikir sesuka hati, seenak perut mereka, entah nantinya akan membuahkan pro dan kontra dari setiap individu yang baca tulisan-tulisan mereka. Sama seperti yang saya lakukan sekarang kan? Menulis. Tapi palingan yang sering mampir ke tulisan ini orang nya sama-sama juga, kalau nggak Lokih, Mba Ellong, atau suami. hihi

Tuesday, November 19, 2013

Malas temannya syaitan

Semester 5 ini benar-benar seperti pembuktian dari sifat yg bernama "rajin" dan "ikhlas". Dimana kalau rajin doang tapi gak ikhlas gak akan membuahkan hasil. Kalau modal ikhlas tapi hak rajin jadinya juga sama aja. Jatohnya jadi pasrah tapi gak ada usaha. Rajin dan Ikhlas harus tersinkronisasi di otak dan hati. Supaya setiap kali ada kata-kata yang berkaitan dengan "TUGAS" ntah itu menulis atau sekedar baca, si Rajin dan Ikhlas ini langsung terpanggil. Jadi segala hal yg berkaitan tentang tugas bisa tuntas atau paling engga kesentuh, mencoba.

Parahnya udah ditengah-tengah semester seperti ini, saya masih aja sukanya bengong atau dengan kata lain masih belom sadar kalau badan sama otak itu mesti bergerak, beringingan jalannya. Masih belum "ngeh" kalau tiap detik itu ber"tugas" bukan berharga lagi nih jadinya. Gak akan selesai tugasnya kalau manajemen waktunya masih acak-acakan. Gak akan selesai tugasnya kalau masih suka nengokin hape liat apa yg terjadi di dunia social media.

Repot ya? Repot kalo gak berubah. Nunggu dicubit orang lain dulu gak tau kapan dicubitnya. Yang paling mungkin nyubit diri sendiri tapi kadang suka terlalu pelan nyubitnya jadi hatinya tetap gak bergerak.

Malas ayo pergi jauh-jauh. Jangan suka temenan sama manusia. Temenan sama syaitan-syaitan aja gih sanaaaa.. Hush hush

Friday, November 08, 2013

Halal Meat Market

Betapa bahagianya saya waktu beberapa minggu kemarin ngeliat toko ini buka di Mall Arkaden kawasan Wilmersdorfer di Berlin. "Eurogida" adalah salah satu toko kedua terbesar yang jual makanan dan daging halal di Berlin (saya kurang tau apakah toko-toko halal seperti "Eurogida" atau "Bolu" juga mengepakkan sayapnya dibelahan Jerman lain selain Berlin. Ehehehe)

Daerah Wilmersdorfer buat orang Berlin termasuk daerah elit dan lumayan hip. Banyak toko-toko kece disitu dan yaa itu tadi Mall Arkaden. Berhubung Mall disini cuma satu dua, jadi sekalinya ada Mall kesannya jadi wah.

Sebenarnya gak ngefek-ngefek banget buat saya toko ini buka karena tempat tinggal saya juga ga deket-deket amat sama daerah ini. Tapi saya bisa ngerasain aja buat sodara-sodara seiman yang masih ngejaga makanan yang masuk ketubuhnya dan yang tinggal di daerah terdekat pasti seneng banget kaaaaan, mereka bisa beli daging deket rumah dan ga jauuuh. Ehehe

Maklum buat kami-kami di tanah rantau yang komunitas muslimnya sedikit toko-toko atau restoran yang ada cap halalnya adalah secercah cahaya. Hahahaa

Di Berlin sendiri ada beberapa daerah yang bisa dibilang banyak banget orang muslimnya, kayak daerah Turmstrasse, Neukölln, Leopoldplatz.. Jadi kalo disana toko halalnya banyaaaak. Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.

Semoga orang-orang yang punya saham toko makanan halal niatnya lurus terus, dilimpahi berkah oleh Allah dan bisa terus melebarkan sayap jadi di seluruh penjuru Jerman ada toko makanan halalnya. :) :) :)

Hmm biasanya sih, biasanyaa yang keliatan jualan di toko-toko tersebut kebanyakan orang Turki, yaa ada juga bangsa lain seperti arab atau libanon tapi gak sebanyak orang turki. Makanya kadang suka bilang "iya nih mau ke toko turki mau beli daging" -ceritanya kalo ditanya temen. Ehehe

Gitu aja sih reportase buat hari ini. Semoga weekend ini menakjubkan! Happy weekend!!

Wassalaamu'alaykum

Tuesday, October 22, 2013

once you believe

Perasaan saya campur aduk akhir-akhir ini. Tapi saya bener-bener menikmatinya dengan amat sangat.

I got a phone call from Bunda yesterday. Believe it or not, Me, Bunda and Lil' Sister are having our own exam today. Hahahaha what a coincidence! dan semoga hasil hari ini adalah hasil terbaik yang Allah beri untuk kami bertiga. aaamiiiin

Hmn....

Things don't come so easy to face on, but once you believe that Allah will help you, you will get the brightside afterall. Yang kita bisa sebagai manusia memang cuma sabar dan usaha. Usaha, sabar, sabar, usaha, sabar lagi usaha lagi teruuuus begitu gak berhenti-berhenti.

Allah always keep His promise to us, mungkin memang belum kelihatan aja di awal. Segala sesuatu yang sulit pasti pahit di awal. Gak ada seneng-senengnya. Semuanya terasa begitu menghimpit. Tapi mungkin memang disitulah ujian kita kali ya? Karena Allah sayang sama kita dan Dia lebih tau keadaan kita seperti apa. Dikasih semua yang gak enak supaya kita bisa lebih sabar, lebih bisa berpikir matang untuk menghadapi segala sesuatunya. Karena memang pada dasarnya we have nothing but Allah. Kekuatan yang kita punya cuma doa, ya kan? Doa agar kita tetep semangat, tetep sabar, tetep usaha, tetep ada di jalannya Allah.

Satu ujian saya dari yang empat atas izin Allah lulus. Dengan saya ngasal jawab soalnya. I didn't know the answer really. It was not because I didn't learn, saya belajar, tapi belajar yang beda bangeet temanya dari tema soal yang guru itu keluarin. Kebaikan Allah yang dateng dari guru itu. Saya bisa lulus dan hasilnya lumayan bagus untuk hasil modal ngarang doang. Hehehe

Saya pasti bukan satu-satunya orang yang sering ngerasain keajaiban-keajaiban di kehidupan. Semua orang pasti punya ceritanya masing-masing. Semuanya punya masalahnya masing-masing dan semua orang punya rejekinya masing-masing.

Karena memang Allah gak pernah membiarkan kita sendiri disaat kita percaya bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Well, I got plenty to do. Beres-beres barang, masuk-masukin semuanya ke kardus dan koper.
Welcome to our real life Mr. Mandela! See you on November in our new castle!

Monday, September 23, 2013

Antara Jilbab dan Wajah beredar di Dunia Maya

On my way back from Brandenburg to Berlin.. ooow yeaa people I'm back for the daily routines -Brandenburg-Berlin, Berlin-Brandenburg- from Monday till Thursday. Kinda gak siap because I still have 4 tests to go in order to finish my credits in 4th Semester. Wish me luck then.. Amiiin Bismillaah

Back to the topic,  On my way back from Brandenburg to Berlin, lots random thoughts stuck on my mind. Some of them are really happening recently and some of them are maybe the truth which we should (must) follow as muslimah yang mau disayang Allah.

When I was in Indonesia last month, I went more than 2 times to Tanah Abang atau tempat belanja murah lainnya macem Jatinegara with my loyal partner Barokah, the closest sister I have inherits from another mother. Pasti geer yaa Loook gue tulis begini? Ahahaha.
Before I met her last month. I know she changed and she is still changing absolutely in good way. Kinda proud of her yang maybe orang-orang kalo sekarang ketemu dia can't take their eyes off of her karena baju yang dia pakai bener-bener kayak orang pake gorden, orang-orang pasti liat heran-heran dari atas sampe bawah sambil mikir "dia ikut aliran apa?" atau "jaman modern begini kok pake pakean gitu sih?.  Bajunya lebar plus longgar plus panjang menutupi bagian rambut sampai kakinya. Berapa kali jalan sama dia, dalem hati saya cuma bisa bilang "giliran gue kapan ya?"
Sorry terlalu lebay mujinya. She's only one of the example of the muslimahs from the entire earth who want to please Allah salah satunya dengan memakai pakaian yang sesuai syariat Islam.

Tentang hijab fashion yang sekarang lagi booming dibudidayakan, dari model jilbab sampai model baju yang agak-agak berlebihan, yang berkesan glamourous, chick, trendy, kece, berwarna, cantik daaaaaaan sebagainya itu, what is your purpose wearing hijab actually?

The rules are :
QS : An Nur : 31
And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty; that they should not display their beauty and ornaments except what (must ordinarily) appear thereof; that they should draw their veils over their bosoms and not display their beauty except to their husbands, their fathers, their husband's fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers or their brothers' sons, or their sisters' sons, or their women, or the slaves whom their right hands possess, or male servants free of physical needs, or small children who have no sense of the shame of sex; and that they should not strike their feet in order to draw attention to their hidden ornaments. And O ye Believers! turn ye all together towards Allah, that ye may attain Bliss.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Stay modest, and stay in Allaah's path gimanapun caranya, seprimitif apapun kelihatannya, sekampung apapun penampakannya, setidak modern apapun dandanannya..

Ayat Allah yang suci itu juga pasti banget tertuju kepada saya yang masih suka banget keliatan cantik di depan orang yang gak semestinya liat, atau masih aja gatel edit-edit warna foto biar jadi vintage atau terkesan bagus dan ngepost foto-foto tersebut di social media entah buat pamer atau buat dapet like dari orang-orang...

My man strictly says "Selisihilah orang-orang kafir..." dan maksud perkataannya tersebut bermakna banyak. Dari enggak suka rempong di facebook, twitter, instagram atau social media lainnya, dan sering nyentil saya juga supaya gak jadi rempong juga didunia maya atau... dengan berusaha lupa ulang tahun masing-masing supaya gak ngucapin, moreover supaya tidak merayakannya even dengan cuma masak-masak atau makan-makan di restoran, once I tell him about our upcoming birthday celebration, niatnya supaya unyu-unyuan berdua, eeh tapi dapet penolakan secara sempurna!

And how lucky I am to have someone yang super cerewet dan super galak. Walaupun kadang-kadang prinsip cool nya dia suka bentrok bangeeet sama kebiasaan saya, tapi kalau itu buat kebaikan dan sesuai syariat Allah, meskipun dengan cemberut di awal, perlahan saya belajar buat berkata tidak untuk ini dan itu yang sepertinya terlihat biasa tapi ternyata malah bikin generasi Islam nowadays keliatan so stupid dimata orang-orang Yahudi.

Musuh kita bukan media ataupun kelompok orang yang mau menjatuhkan Islam, tapi musuh kita itu yaa kebodohan kita sendiri, bodoh karena malu buat mempraktekkan sunnah Rosul, bodoh karena gak mau cari ilmu Allah, bodoh karena kemakan jaman a.k.a globalisasi.


Manusia memang banyak coreng morengnya, khususnya saya yang udah sotoy banget nulis beginian. Beneran ini juga buat ingetin diri sendiri. Saya mesti ngaca nih abis ini.. Hehehe
Berubah untuk kebaikan bareng-bareng yuk?

Saturday, September 14, 2013

Koran by Heart

Maybe I kinda the latest person yang nonton kali ya...
Anak-anak yang lovely ini sudah bisa mikir Al-Quran itu lebih penting dari buku-buku lainnya.
Mereka menghafal Al-Quran, menghafal!! Kebanyakan dari kita bahkan saya sendiri aja suka ngegerutu sendiri kalau suami lagi benerin tajwidnya Al-Fatihah. Padahal Al-Fatihah rukun sholat kan? terlihat sepele but it really is not.

Hmm kapan saya bisa nyusul ya? Mau ngafalin juz 30 aja rasanya berat banget.. Ngafalin surat yang lebih panjang sedikit rasanya adaaa aja gangguannya. :'(

Adat atau Syariat?

Ada beberapa hal yang dari sebulan lalu mengusik hati, namun apa daya saya tidak bisa berucap cuma bisa kebingungan bagaimana menyikapi dengan hati dan perbuatan.

It seems like "it's not a big deal", kelihatan kasat mata itu sepele karena memang sudah menjadi kebiasaan orang-orang dahulu. Orang-orang dahulu yang biasa juga disebut leluhur atau nenek moyang. Miris rasanya ketika adat-adat yang katanya warisan nenek moyang itu lebih dicintai masyarakat dari pada Sunnah Rasululloh Sholallohu'alayhi Wasallam.

Masyarakat kebanyakan sekarang itu.. lebih menjunjung tinggi "Apa kata orang" bukan "kata Allah" atau "kata Rosul". Banyak yang melakukan sesuatu lebih karena mendengarkan perkataan orang lain, bukan karena Allah yang suruh atau Rosul yang suruh.

Orang Islam itu punya dua hukum yang paling dasar dan mendasar yang sepatutnya sudah dijadikan sumber hukum yang paliiiiiiiiiiiiiiiing nomor satu, yaitu Al-Quran dan Sunnah Rosul, karena tidak satupun perkataan Allah ingin membuat susah hamba-hambaNya dan karena Rosul pun sangat cinta pada ummatnya.


Allah Subhaanahu Wata'ala telah menjelaskan dalam al Qur'an bahwasanya kita diwajibkan mengambil dan mengikuti segala apa yang telah disabdakan dan ditunjukkan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan firman Allah :


{80} مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Q.S An Nisa (4):80 )


Maka segala sesuatu yang telah dijelaskan oleh sunnah Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam, sesungguhnya Al Qur'an sudah menunjukkan pula. Karena Sunnah termasuk juga wahyu yang diajarkan oleh Allah Subhaanahu Wata'ala kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:


{113}....وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ... 
Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As Sunnah) kepadamu....(Q.S. An Nisa (4):113)


Dengan demikian, apa yang disebutkan dalam Sunnah maka sebenarnya telah disebutkan pula dalam Al Qur'an.

Ketika syahadat itu terucap, ketika hatimu yakin bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan Muhammad SAW adalah Rosululloh, maka setiap perilaku kita adalah tanggung jawab dari perkataan tersebut, dari janji kita tersebut. Bila kita cinta Allah, tidak mungkin kita tidak menaruh Allah pada tempat paling pertama, tidak mungkin kita tidak menjadikan Al-Quran sebagai rujukan kita dalam bermuamalah, dan tidak mungkin kita tidak menjadikan Sunnah Rosul bagian dari kehidupan sehari-hari. 


Allah jadikan kita bersuku-suku agar kita saling kenal mengenal. Islam ajarkan kita untuk bersatu padu, karena seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim yang lain. Suku-suku dan budaya-budaya tersebut tidak elok bila dijadikan ajang lomba. "Suku ku begini, sukumu kan tidak begini, kalau di daerah A begini, kalau disana bagaimana?".

 Ilmu saya masih kurang. Saya cuma yakin satu, Al-Quran dan Sunnah Rosul itu adalah sumber keselamatan seluruh manusia di dunia, dan tidak ada kata expired atau habis masa berlaku untuk keduanya. Al-Quran dan Sunnah Rosul adalah penuntun ummat Islam di era dulu, sekarang, dan pastinya sampai kiamat kelak.Tuntunlah kami selaluuu yaaa Allaaaaah :'(